Breaking News

Hoaks Bisa Berujung Maut


Menurut Septiadji Eko Nugroho,  Ketua Mafindo, media sosial berperan sebagai ekosistem penyebaran hoaks yang paling mengancam. Tak main-main, kawan. Sebaran hoaks lewat media sosial beberapa kali menyebabkan hilangnya nyawa.

Masih ingat sebaran pamflet digital mengatasnamakan Mabes Polri yang menyebut banyaknya penculik anak yang menyamar menjadi gelandangan, pemulung, bahkan orang gila?

Pada Maret 2017, isu tersebut sempat ramai. Disebar secara tak bertanggung jawab oleh satu akun media sosial ke akun-akun media sosial lain, dari sebuah platform media sosial ke platform-platform lainnya.

Dampak dari pesan berantai yang belakangan diklarifikasi sebagai hoaks itu sangat konyol. Maman, pria berusia 53 tahun di Kalimantan Barat tewas di tangan warga yang mencurigainya sebagai penculik anak.

Padahal, kala itu, perjalanan Maman ke Desa Amawang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah adalah untuk menjenguk cucunya yang tengah sakit. Ironis!

Maman bukan satu-satunya yang tewas karena hoaks. Di belahan Nusantara lain, sejumlah orang, secara tak langsung tewas karena hoaks. Tak terdeteksi jumlahnya.

Sejumlah konflik horizontal berawal dari pemberitaan hoaks. Dari konflik-konflik itu, banyak orang yang akhirnya mati di tangan saudara sebangsa. Gilanya, kebanyakan konflik justru dipicu oleh masalah sepele.

No comments