Breaking News

Regina Sintika Idikya, Persembahkan Perak untuk Papua


Banda Aceh - Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SMA/SMK 2019 yang berlangsung di Banda Aceh beberapa hari lalu, meninggalkan kesan mendalam bagi Regina Sintika Idikya. Karateka kelahiran Merauke, Papua ini tak pernah menyangka bisa berada di Aceh, provinsi paling barat Indonesia.

Dari sekitar 800–an atlet dari seluruh Indonesia yang berlaga O2SN SMA/SMK di Banda Aceh, Regina Sintika Idikya bisa dikatakan sebagai peserta yang menempuh perjalanan paling jauh. Untuk tiba di Banda Aceh, Regina harus menempuh penerbangan hingga 13 jam. dimulai dari Merauke menuju Jayapura, lanjut ke Makassar lalu ke Jakarta, hingga tiba di Banda Aceh.

Alasan itu pula yang menjadikan Regina memiliki tekad yang kuat supaya bisa membawa pulang medali. Alhasil, satu medali perak dari cabang karate kelas kumite putri berhasil dipersembahkan untuk Papua. "Saya tidak mau pulang sia–sia, sudah naik pesawat 13 jam ke Aceh, saya pulang harus bawa itu medali, saya ingin buat Papua bangga," ujar Regina.

Medali itu menjadi raihan medali pertama ajang nasional bagi gadis kelahiran Merauke 3 Oktober 2002 ini. Usai pengalungan medali di aula Hotel Grand Aceh, Banda Aceh, Kamis (29/8), Regina tampak sangat bahagia dan bangga, karena setelah dipercayakan membawa nama Papua dan berhasil mempersembahkan medali perak untuk tanah kelahirannya.

Regina menceritakan, O2SN Aceh memberi kesan tersendiri bagi siswi SMKN 1 Merauke ini. Karena menjadi ajang nasional pertamanya untuk membawa nama Papua, dan ia juga bersyukur karena langsung bisa membalas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Di cabang karate, Regina turun di dua kelas, yaitu kata dan kumite. Ia sempat gugup saat bertemu lawan dari berbagai provinsi di Indonesia. Namun, ia melawan rasa gugupnya dan berhasil naik ke podium untuk kelas kumite. "Saya sempat goyang saat kalah di kelas kata, takut gak bisa membawa pulang medali buat Papua. Pelatih saya bilang kalau kalah di kata, maka habiskan di kumite, akhirnya saya bisa," ujarnya.

Untuk bisa tampil di Aceh, Regina harus melewati seleksi yang sangat ketat, mulai tingkat kabupaten hingga provinsi. Sebelumnya, Regina hanya pernah tampil paling tinggi hingga tingkat provinsi.

Dalam O2SN kali ini, Papua hanya meraih satu perak dan satu perunggu, serta menduduki peringkat 28 nasional. Medali perak dari Regina menjadi penyelamat wajah Papua dalam ajang ini.

Kesuksesan ini juga memberikan keistimewaan tersendiri bagi Regina. Karena dia membuktikan kualitas diri, di tengah beragamnya anggota kontingen Papua.

Untuk diketahui, meski semua atlet berjuang mati–matian demi mengharumkan nama Papua, namun tidak semua mereka adalah orang asli Papua. Sebagian merupakan para perantau yang kemudian besar dan bersekolah di Papua.

Sebagai anak asli Papua, Regina memiliki semangat tersendiri dalam dirinya, ia ingin menunjukkan bahwa anak–anak asli Papua juga mampu berprestasi.

Lalu bagaimana kesannya selama berada di Banda Aceh? Regina mengaku sangat nyaman berada di Aceh, karena suasananya ramai, apalagi di ajang O2SN ia bisa berkenalan dengan teman–teman dari berbagai provinsi di Indonesia.

Di Banda Aceh Regina juga menyempatkan mengunjungi sejumlah lokasi wisata dan tempat bersejarah, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Museum Tsunami. "Bagi saya Aceh dan Papua selalu bersaudara, sambutannya juga meriah," ujar Regina.


No comments