Breaking News

Masjid Teungku Chik di Tiro Terlupakan


Kondisi bangunan Mesjid Tuha di Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, yang dibanguan oleh pahlawan Nasional Aceh Teungku Muhammad Saman atau Teungku Chik di Tiro terlupakan. Kondisi masjid ini terancam ambruk dan lapuk seiring tak ada perawatan.

Ketua Institut Peradaban Aceh, Haikal Afifah, menjelaskan, Mesjid Tuha ini dibangun pada tahun 1208 Hijjriah oleh Teungku Muhammad merupakan guru Teungku Chik Ditiro. Teungku Muhammad merupakan adik kandung Fatimah, ibu kandung Teungku Chik Ditiro. Arsitektur mewakili arsitektur lama yang khas dijumpai di seluruh Negeri–negeri Melayu (Al–Bilad Al–Jawiyyah).

Dia menjelaskan, atap–atap bertingkat yang ditopang oleh empat tiang utama di bagian tengahnya dan 12 tiang penyangga yang tersambung dengan tiang utama adalah ciri yang paling utama masjid–masjid tua di Kepulauan Melayu.

Sedangkan ruangan dengan dinding setengah terbuka yang dipadukan dengan ventilasi–ventilasi berukir adalah ciri kearifan lokal dari arsitektur tropis.

“Dinding–dindingnya terbuat dari kayu keras utuh dengan ketebalan sekitar tujuh centi meter, dan panjang sekitar 13 meter. Adapun alat komunikasi tradisional seperti Tambo (Beduk) masih dapat kita dilhat teronggok di loteng masjid masih utuh,” katanya, Senin, 7 Oktober 2019.

Dari keseluruhan modelnya, bisa kita bandingkan dengan mimbar–mimbar tua yang berasal dari abad ke–18, 19 dan awal abad ke–20.

“Bagian puncak atap mimbar memiliki nafas kesenian yang sama yang dapat kita bandingkan pula dengan bentuk–bentuk nisan yang berkembang abad ke–18 dan 19,” jelanya.

Pemerintah juga wajib menjadikan kawasan Tiro, khususnya di Gampong Meunasah Mancang sebagai kawasan Cagar Budaya. Kompleks makam syuhada Tiro dan Zawiyah Tuha (Dayah Tuha) serta rumah–rumah tradiosional (Rumoh Aceh) harus menjadi kesatuan terpadu dan tidak terpisahkan dari kawasan tersebut.

“Pemerintah Aceh, Lembaga Wali Nanggroe juga wajib ikut bertanggung jawab untuk berperan aktif dalam merevitalisasi tinggalan ulama/pejuang Tiro di kawasan ini. Karna embrio Lembaga Wali Nanggroe itu tidak lepas dari Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman yang dipercaya oleh masyarakat sebagai Wali Nanggroe pertama,” ungkapnya

No comments