Keteladanan Umar dalam Memimpin Rakyatnya, Mau Mendengar dan Dikritik

Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, seperti yang sering dilakukan. Ia menunggangi keledainya menelusuri jalan-jalan kota. 

Aktivitas ini bukan hanya untuk bertegur sapa dengan sahabat dan rakyatnya saja, tetapi juga sebagai upaya memeriksa kondisi rakyatnya, memberikan bantuan kepada yang memerlukan, dan mencegah terjadinya kezaliman di negerinya.

Suatu hari, perjalanan Umar terhenti ketika seorang nenek tiba-tiba menghentikan keledai yang ditungganginya. Sang nenek dengan tegas memberikan nasihat kepada Umar. Dia berkata, "Hei Umar, aku mengenalmu dari masa ketika kau dipanggil Umair (Umar kecil), yang suka menakuti-nakuti anak-anak di pasar Ukadz dengan tongkatmu. Waktu berlalu, dan kini kau dihormati sebagai Amirul Mukminin..."

"Karena itu, bertakwalah kepada Allah atas rakyatmu! Barang siapa yang takut akan ancaman Allah, maka akhirat akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dan barang siapa yang yakin akan hari penghitungan (al-hisab), ia akan menjauhi azab Allah."

Umar hanya mendengarkan perkataan sang nenek tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Bahkan, teman setianya, Al-Jarud Al-Abidy, merasa terganggu dengan sikap nenek itu dan mencoba untuk membela Umar. Namun, Umar Ra melarangnya dan berkata, "Biarkanlah dia... Apakah engkau tidak mengenalnya? Dialah Khaulah yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas tujuh lapis langit, maka Umar lebih berhak untuk mendengarnya," ujar Amirul Mukminin.

Dalam riwayat lain, Umar mengatakan, "Demi Allah, jika ia tidak pergi sampai malam, aku akan terus mendengarkannya sampai ia puas. Kecuali jika waktu shalat tiba, aku akan shalat kemudian kembali mendengarkannya, hingga ia puas."

Kepemimpinan Umar RA selalu didasari oleh keterbukaan terhadap keluhan rakyatnya. Ia bahkan tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa melakukan kelalaian. Umar selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan sungguh-sungguh. 

Sebagai seorang Khalifah, ia pernah memikul karung gandum sendiri dan memberikannya kepada seorang janda di ujung kota.

Keteladanan Umar mengajarkan kita semua bahwa seorang pemimpin harus memiliki pendengaran yang peka terhadap keluhan dan bahkan kritik dari rakyatnya. Ia menyadari bahwa kekuasaannya adalah amanah yang harus ia tunaikan kepada rakyat yang dipimpinnya.

Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang mencari pujian. Baginya, selalu ada peringatan dari firman Allah SWT, "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka kerjakan dan mencintai supaya dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, maka janganlah kamu mengira bahwa mereka terlepas dari siksaan, dan bagi mereka ada siksa yang pedih." (Ali Imran: 188).

0 Komentar

close