Mantan Kepala Intelijen Duga Ada 'Tuan' di Balik Kasus Imam Masykur

Soleman Ponto, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (KaBAIS), mengemukakan dugaannya bahwa komplotan yang melibatkan Praka Riswandi Manik (RM), oknum Paspampres yang terlibat dalam penculikan dan penganiayaan Imam Masykur, seorang warga Aceh, mungkin tidak beroperasi sendirian.

Soleman Ponto menduga ada individu yang berperan sebagai 'Tuan' di balik Praka RM, memberikan instruksi untuk melaksanakan tindakan tersebut.

"Terdapat individu yang menugaskan ketiga pelaku untuk melakukan tindakan ini, mungkin karena korban terlibat dalam aktivitas ilegal. Jadi, ada kompensasi yang harus diberikan," jelas Ponto, seperti dikutip dari Jawa Pos pada Jumat (1/9).

Dugaan ini semakin menguat karena Imam Masykur dan pelaku RM keduanya merupakan warga Aceh. Selain itu, Riswandi Manik mengetahui Imam Masykur diduga terlibat dalam penjualan obat-obatan ilegal, meskipun keduanya tidak saling mengenal.

Menurut Ponto, skenario ini masuk akal mengingat baik korban maupun pelaku hanya menjalankan perintah dari 'Tuan' masing-masing.

"Ketiga pelaku hanya menjalankan peran yang telah ditugaskan kepada mereka, itulah sebabnya mereka tidak kenal satu sama lain meskipun berasal dari Aceh," papar Suleman Ponto.

Ponto mendorong penyidik untuk mendalami lebih lanjut guna memastikan motif sebenarnya di balik kasus pembunuhan pemuda Aceh ini.

Jika motifnya memang semata-mata karena masalah ekonomi, Ponto mengusulkan agar TNI mempertimbangkan kembali tingkat gaji yang diberikan kepada personelnya.

Sebelumnya, Danpomdam Jaya, Kolonel CPM Irsyad Hamdie Bey Anwar, mengklaim bahwa motif pelaku dalam kasus penculikan dan penganiayaan terhadap Imam Masykur adalah pemerasan semata.

Riswandi Manik diduga melakukan tindakan ini untuk mendapatkan uang tebusan akibat korban terlibat dalam penjualan obat-obatan ilegal.

Riswandi Manik bahkan percaya bahwa keluarga korban tidak akan melapor karena mereka mengetahui aktivitas tersebut.

"Keluarga korban mungkin yakin Imam Masykur terlibat dalam penjualan obat ilegal. Jadi, jika penculikan dan pemerasan terjadi, mereka cenderung enggan melaporkannya kepada polisi," papar Irsyad kepada wartawan pada Senin (28/8). (jawapos)

0 Komentar

close